previous arrow
next arrow
Shadow
Slider


Program Pendidikan Dokter Spesialis THT fakultas kedokteran Universitas Diponegoro pertama kali meluluskan dokter spesialis THT pada tahun 1966. Pada awalnya pendidikan dokter spesialis masih menginduk pada Universitas Indonesia. Penetapan program pendidikan dokter spesialis I THT berdasarkan Surat Keputusan Rektor Universitas Diponegoro no : 144/SK/PT09/1980 pada 29 November 1980. Akreditasi B didapatkan program pendidikan dokter spesialis I THT dari Kolegium pada tanggal 10 nov 2011. Sejak berdiri sampai sekarang THT FK Undip telah meluluskan 158 dokter spesialis THT yang bekerja di seluruh Indonesia.

VISI & MISI
VISI & MISI

Visi Program Studi  

Menjadi pusat pendidikan, penelitian dan pengabdian THT-KL yang unggul di Indonesia dan dikenal di Internasional pada tahun 2020.


 Misi Program Studi  

  1. Melaksanakan pendidikan calon dokter spesialis THT-KL yang terampil dan kompeten di bidangnya serta mampu berkompetisi dalam skala global.
  2. Mengembangkan penelitian sesuai kemajuan dan kebutuhan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran bidang IKTHT-KL.
  3. Memberikan pelayanan di bidang THT-KL yang berkualitas secara paripurna yang menjadi rujukan dan berorientasi pada masalah yang ada dimasyarakat.
  4. Melaksanakan pendidikan berkelanjutan dibidang Rinologi dan Otologi berskala internasional.

Tujuan Program Studi  

Tujuan Khusus

Menghasilkan dokter spesialis THT-KL yang memiliki kemampuan dan keterampilan akademik, mengembangkan penelitian dan memberikan pelayanan dibidang THT-KL yang dapat berdaya saing secara global.

Tujuan Khusus

Menghasilkan lulusan dokter spesialis THT-KL yang:

  1. Mampu menguasai ilmu kesehatan THT-KL berdasarkan perkembangan ilmu terkini.
  2. Memiliki keterampilan dokter spesialis THT-KL sesuai dengan kompetensi dan teknologi terkini.
  3. Dapat berpikir dan bersikap kritis, analitis, sistematis, terbuka, dan proaktif terhadap perkembangan ilmu THT-KL.
  4. Mampu menjadi dokter spesialis THT-KL yang profesional dan dapat bersaing secara global.
  5. Mampu mengembangkan keilmuan dan keterampilan terutama bidang Rinologi dan Otologi.
  6. Mampu membuat penelitian yang menghasilkan temuan – temuan dan konsep dalam pengelolaan pasien yang diakui dan bermanfaat bagi perkembangan ilmu THT-KL.
  7. Mampu mengimplementasikan hasil penelitian untuk peningkatan taraf kesehatan masyarakat.
  8. Mampu memberikan pelayanan kesehatan bidang THT-KL sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

 

STAFF PENGAJAR
STAFF PENGAJAR

ALUMNI
DAFTAR ALUMNI THT-KL FK UNDIP

NONAMALULUS SPESIALISPENEMPATAN
1Dr. Herry Soepardjo1966-
2Dr. Bambang SS1959-
3Dr. Dullah Aritomoyo1973-
4Dr. Soetomo1974-
5Dr. Budi Susanto1974Jakarta / Pensiun
6Dr. Wiratno1977RS Elisabeth Semarang
7Dr. Sudaryatni1977-
8Dr. M. Soetjipto1977Pekan Baru / Pensiun
9Dr. Muclish Hasan1978Jakarta / Pensiun
10Dr. MD. Kharie1980-
11Dr. Sutomo Sudono1981Solo / Pensiun
12Dr. Made Subrata1982Jakarta
13Dr. Bambang Sudiratmo1982RS Wijaya Kusuma ( DKT ) Purwokerto
14Dr. Kingkin Heru Subagyo1982RSUD Kraton Pekalongan
15Dr. Suprihati1983RS Hermina Pandanaran, Semarang
16Dr. Soejoto Atmo Soekiswo1983Pati
17Dr. M. Noersinggih1984Slawi
18Dr. Pudjo Soejono1984RSU Tirtonegoro Klaten
19Dr. Mahyudin Ahmad1984-
20Dr. S Elka Hardy1984-
21Dr. Jogjahartono1984-
22Dr. Santo Pranowo1985RSUD Kudus
23Dr. Sudarmawan1985RSUD Tidar
Magelang
24Dr. Pandji Utomo1982RS Elisabeth
Semarang
25Dr. Ign Rahardjo1985RS St. Maria Pemalang
26Dr. Siti Nurjanah1984RSU Sukohardjo
27Dr. Samsudin1985Semarang
28Dr. Herawati Agung1985Bengkulu
29Dr. Dwi Priyo Miyoso1986RSUD Kediri
30Dr. R. Rahadi1987RSUD Blitar
31Dr. Nietje Mewengkang1987RS Kandauw Menado
32Dr. Nurtrisno Amas Achtiar1988-
33Dr. Djoko Kuntoro1988Jember
34Dr. Aminudon Todo1988Bukit Tinggi
35Dr. Achadi Imam Santoso1988RSUD R. Soejati,
Purwodadi
36Dr. F. Eddy Hermani1989Semarang
37Dr. Tri Damiyatno1989Jakarta
38Dr. Karsin Iksan1989Lumajang
39Dr. M. Taufik Swasono1990Boyolali
40Dr. Soemartono Kartiko1990Purbalingga
41Dr. Mihardjo Djoehari1990Kendal
42Dr. Suparyadi Setyabudi1990Blora
43Dr. Yunus Kusno1990Brebes
44Dr. Condroyono1990-
45Dr. Zakaria Sahlan1990Pati
46Dr. Slamet Suyitno1990Semarang
47Dr. Bambang suratman1990Surakarta
48Dr. Nylma Midin H. Biran1990Bogor
49Dr. Yuslam Samihardja1991Semarang
50Dr. Amriyatun1991Semarang
51Dr. Ali Budihardjo1991Tegal
52Dr. Zaherzan Zakaria1991-
53Dr. Mulaif Muchya1992Semarang
54Dr. Eric Johan Supit M.1992Ambarawa
55Dr. Sudarman1992Surakarta
56Dr. Riece Hariyati1992Semarang
57Dr. Kadir Busairi1993-
58Dr. Subandji Sadeli1994Surabaya
59Dr. Pradipto Lunggono1994Pemalang
60Dr. IGK Putra1994Kedir
61Dr. Robert AH Hasibuan1994Jakarta
62Dr. Lukman Mus’at1995Semarang
63Dr. Suhardjanto1995-
64Dr. Djoko Prasetyo AN.1995Semarang
65Dr. Budi Wiranto1997Magelang
66Dr. Adi Djokosasono1997Tulung Agung
67Dr. Sabri Syamsu1996Jakarta
68Dr. Tris Sudyartono1997Kudus
69Dr. Nendyo Susilo1997Surabaya
70Dr. Made Jeren1998Ponorogo
71Dr. Wiendyati SR.1998Jakarta
72Dr. Dwi antono1998Semarang
73Dr. Agus Gunardi1998Kalimantan
74Dr. Syaiful Bahri Bangun1998Kalimantan
75Dr. Agus Sudarwi1998Kudus
76Dr. Kirk Douglas Marojahan S1999Pekan Baru
77Dr. Dina Permata Sari2000Semarang
78Dr. Pramono2000Temanggung
79Dr. Nengah Wartawan2000Bali
80Dr. Maria Kwarditawati2001Jember
81Dr. Muyassaroh2001Semarang
82Dr. Roy David Sarumpaet2001Bandung
83Dr. Matius Tira2002Jakarta
84Dr. Sukamta Yudi Prihantara2002Semarang
85Dr. Shelly Tjahyadewi2003Semarang
86Dr. Aris Budiyanto2003Jambi
87Dr. AAG. Bawanegara2003Bali
88Dr. Primartono2003Purwokerto
89Dr. I Made Yoga2003Bali
90Dr. Boedi Siswantoro2003Pekalongan
91Dr. Pujo Widodo2004Semarang
92Dr. Pulo Raja Soaloon B.2004Jakarta
93Dr. Agung Sulistyanto2004Semarang
94Dr. Farokah2005Semarang
95Dr. Hadi Sudrajad2006Surakarta
96Dr. Ratna setyo Wigiyatni2006Solo
97Dr. Zulfikar Naftali2006Semarang
98Dr. Wahyu Budi Martono2006Semarang
99Dr. Bambang Agus Soesanto2006Semarang
100Dr. Willy Yusmawan2006Semarang
101Dr. Sarwastuti Hendradewi2006Surakarta
102Dr. Marhaeni Sudarmini2006Banten
103Dr. Adi Nolodewo2006Semarang
104Dr. I Gusti Ketut Nurada2006Bali
105Dr. Andriana Tjitria WS.2006Semarang
106Dr. Retno Praptaningsih2006Demak
107Dr. Erwinantyo Budi Kusumo2006Semarang
108Dr. Mediana Dewi Estanty2006Jakarta
109Dr. H.R. Soemadi2006Semarang
110Dr. Bambang Suyamto2006Rembang
111Dr. Johan Bernardus2007Jakarta
112Dr. Kristiawan Abri Roosadi2007Jakarta
113Dr. Yunarti2007Semarang
114Dr. Agus Indro Budianto2008Madiun
115Dr. M. Nurman Hikmallah2008Lombok
116Dr. Henny Kartikawati, MKes2009Semarang
117Dr. Awal Prasetyo, MKes2009Semarang
118Dr. Abdul Muin2009Kalimantan
119Dr. Muhammad Setiadi2009Semarang
120Dr. Arif Budiwan2009Klaten
121Dr. Fahmi Novel2010Tegal
122Dr. Denny Satria Utama2010Palembang
123Dr. Rery Budiarti2010Semarang
124Dr. M. Andi Fatkhurokhman2010Kalimantan
125Dr. Novina Rahmawati
2011Aceh
126Dr. Anna Mailasari KD2011Semarang
127Dr. Dian Ayu Ruspita2011Semarang
128Dr. Bambang Suprayogi R.U2011Jakarta
129Dr. Ari Nursanti
2011Kendal
130Dr. Melinda Soesilorini2011Sumatera Utara
131Dr. Dina Suryaningrum2011Madiun
132Dr. Yusuf Aminullah2011Kalimantan
133Dr. Iskandar zulkarnain2011Pekalongan
134Dr. Afif Zjauhari2011Kudus
135Dr. Feri danil2012Jakarta
136Dr. Dwi Marliawati2012Semarang
137Dr. Kanti Yunika2013Semarang
138Dr. Lori Ana Ulfa2013Riau
139Dr. Noor Proyo HIdayat2013Banten
140Dr. Hanna Syakura2013Surabaya
141Dr. Ardhian Noor W.2013Pati
142Dr. Imam Hidayat2013Surabaya
143Dr. Maria Chrisma P.2013Magelang
144Dr. M. Alfian Sulaksana2013Lombok
145Dr. Dimas adi Nugroho2014Karanganyar
146Dr. Netty Widiandari2014Karanganyar
147Dr. Hesti Dyah Palupi2014Semarang
148Dr. Nur Iman Nugroho2014Semarang
149Dr. Dian Indah Setyorini2014Jepara
150Dr. Astin Prima Sari2014Semarang
151Dr. Sekti Joko Suntono I2014Purwokerto
152Dr. Sugeng Santoso2014Cilacap
153Dr. Ridha Patria Febriani2015RS Keluarga Sehat, Pati
154Dr. Ika Windi Binekawati2015RSUD Ungaran
155Dr. Sukotjo Hartono2015RS Ulin Kalimantan
156Dr. Brammediansyah2015RSU Gunung Jati, Cirebon
157Dr. Enny puji Astuti2015RSU RA. Kartini, Jepara
158Dr. Devia Arnita2016Kalimantan
159Dr. Nancy Liwikasari2016RS Elizabeth Semarang
160Dr. Aryo Yunian Ramdhani2016Jakarta
161Dr. Anton Haryono2016Temanggung
162Dr. Christin Rony Nayoan2016RSUD Luwuk, Sulawesi Tengah
163Dr. Deasy Mediawaty2016RSUD R. Soejati, Purwodadi
164Dr. Ayu Citra Resmi2016Kayen / Pati
165Dr. Viika Miftakhul Umami2016Demak
166Dr. Rokhmatullah Subekti2017Wonosobo
167Dr. Shinta Devi Aguslia2017RS Ulin Kalimantan
168Dr. Legawati Siringo ringo2017RS UD Matraman, Jakarta Timur

DIVISI

Ruang lingkup Ilmu Kesehatan THT-KL terdiri dari:

RISET & PUBLIKASI

Hasil kegiatan riset dituangkan ke dalam bentuk jurnal atau artikel berkualitas dan publikasi ilmiah ini merupakan bukti komitmen dan intensitas karya dari aktivitas keilmuwan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Berikut beberapa abstrak dari THT-KL FK UNDIP.

ABSTRAK

EFEKTIFITAS BETAHISTINE DIBANDING DIMENHIDRINATE TERHADAP SKOR DIZZINESS HANDICAP INVENTORY PENDERITA GANGGUAN VESTIBULER PERIFER

EFEKTIFITAS BETAHISTINE DIBANDING DIMENHIDRINATE TERHADAP SKOR DIZZINESS HANDICAP INVENTORY PENDERITA GANGGUAN VESTIBULER PERIFER

Christin Rony Nayoan

 

ABSTRAK

Latar belakang : Gangguan Vestibuler Perifer (GVP) adalah gangguan pada sistem vestibuler perifer dengan gejala pusing berputar (vertigo). Gejala GVP mempengaruhi kualitas hidup penderitanya dari derajat sedang sampai berat. Penilaian secara objektif terhadap berat ringannya gejala sulit sehingga dikembangkan kuesioner Dizziness Handicap Inventory (DHI). Tujuan terapi GVP kualitas hidup optimal dengan salah satu pilihan terapi simptomatis, obat vestibulo suppressive seperti dimenhidrinate dan betahistine.

Tujuan : Membuktikan efektivitas betahistine, dimenhidrinate dan efektifitas betahistin dibanding dimenhidrinate terhadap penurunan skor DHI.

Metode : Penelitian intervensi, pretest and posttest control group design, randomized control trial, double blind di Klinik THT-KL, CDC RSUP Dr.Kariadi, RSUD Dr.Soetrasno Rembang pada Bulan September 2015 – Juni 2016. Penderita GVP mengisi kuesioner DHI pretest dilanjutkan randomisasi stratifikasi dan diberikan betahistine 12 mg/8 jam atau dimenhidrinate 50 mg/8 jam, double blind. Setelah 2 minggu pemberian obat dilakukan pengisian skor DHI post test. Analisis ujia komparatif menggunakan ujia Wilcoxon dan Mann Whitney.

Hasil : Jumlah subjek penelitian 40 orang; dimenhidrinate 20 orang (45,5%) dan betahistine 24 orang (54,4%). Skor DHI pasca test lebih rendah dibanding pre test pada kelompok dimenhidrinate dan betahistine dengan nilai kemaknaan p<0,05. Skor DHI kelompok dimenhidrinate dibandingkan dengan kelompok betahistine menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna (p = 0,137)

Simpulan : Betahistine dan dimenhidrinate terbukti efektif menurunkan skor DHI penderita GVP dan Betahistine tidak terbukti lebih efektif dibanding dimenhidrinate terhadap penurunan skor DHI penderita GVP.

Kata kunci : Gangguan vestibuler perifer, Dimenhidrinate, Betahistine, Dizziness Handicap Inventory.

EFEKTIVITAS KLINIS OFLOKSASIN TOPIKAL DIBANDING CIPROFLOKSASIN ORAL PADA TERAPI OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK AKTIF

EFEKTIVITAS KLINIS OFLOKSASIN TOPIKAL DIBANDING CIPROFLOKSASIN ORAL PADA TERAPI OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK AKTIF

Deasy Mediawaty

 

ABSTRAK

LATAR BELAKANG : Otitis media kronik atau sering disebut Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) adalah otitis media yang berlangsung >12 minggu. Prevalensi OMSK di seluruh dunia sebanyak 65-330 juta dan 60% di antaranya menderita kurang pendengaran yang signifikan. Angka kejadian OMSK aktif mencapai 3,8% dari pasien THT-KL. Gejala OMSK aktif berupa banyaknya discaj, kurang pendengaran, nyeri, pusing berputar, telinga tidak nyaman. Tanda OMSK aktif berupa discaj di liang telinga, perforasi membran timpani dan gangguan pendengaran. World Health Organization (WHO) mencanangkan strategi untuk mengatasi OMSK secara serius berkaitan dengan komplikasi yang dapat disebabkan. Pilihan terapi medikamentosa yang tepat diperlukan untuk mengatasi OMSK aktif. Ofloksasin topikal dan ciprofloksasin oral adalah antibiotik golongan fluorokuinolon yang banyak digunakan. Efektivitas diantaranya dibuktikan dengan perbaikan gejala dan tanda klinis.

TUJUAN : Membuktikan efektifitas ofloksasin topikal, ciprofloksasin oral dan efektifitas ofloksasin topikal dibanding ciprofloksasin oral terhadap perbaikan gejala dan tanda.

METODE : Penelitian intervensi dengan rancangan pretest and posttest control group design, randomized control trial. Klinik THT-KL BKIM Semarang pada bulan Juni-Agustus 2016. Penderita OMSK aktif dilakukan anamnesis lalu dilakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan pendengaran dilanjutkan randomisasi. Penderita diberi ofloksasin topikal 10 tetes/12 jam atau ciprofloksasin tablet 500mg/12 jam per oral. Hari ke 4, 10 dan 14 setelah terapi penderita kontrol. Analisis uji komparatif menggunakan uji parametrik dan non parametrik.

HASIL : Jumlah subyek penelitian 108 orang; ofloksasin topikal 54 orang (50%) dan ciprofloksasin oral 54 orang (50%). Gejala dan tanda klinis setelah terapi lebih rendah dibanding sebelum terapi pada kelompok ofloksasin topikal dan ciprofloksasin oral dengan nilai kemaknaan p<0,05. Gejala klinis kelompok ofloksasin lebih baik dibanding ciprofloksasin secara bermakna (p<0,05). Tanda klinis kedua kelompok terdapat perbedaan yang tidak bermakna (p>0,05)

SIMPULAN : Ofloksasin topikal dan ciprofloksasin oral terbukti efektif memperbaiki gejala dan tanda klinis penderita OMSK aktif. Ofloksasin topikal efektif memperbaiki gejala klinis dibandingkan ciprofloksasin oral

KATA KUNCI : Otitis media supuratif kronik, ofloksasin, ciprofloksasin, gejala dan tanda klinis

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN MIXED HEARING LOSS PADA PENDERITA OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK DI RSUP Dr. KARIADI SEMARANG

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN MIXED HEARING LOSS PADA PENDERITA OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK DI RSUP Dr. KARIADI SEMARANG

Aryo Yunian Ramdhani

 

ABSTRAK

Latar Belakang : Gangguan pendengaran yang terjadi pada penderita otitis media supuratif kronik (OMSK) umumnyakurang pendengaran konduktif. Beberapa pasien terdapat keterlibatan komponen sensorineural. Kejadian mixed hearing loss (MHL) pada penderita OMSK dapat disebabkan banyak faktor seperti lama sakit, adanya kolesteatoma, letak dan luas perforasi membran timpani, jenis kuman serta adanya alergi pada OMSK yang dapat mempengaruhi kerusakan pada telinga dalam.

Tujuan : Menganalisis pengaruh lama sakit, adanya kolesteatoma, letak dan luas perforasi membran timpani, jenis kuman, alergi terhadap kejadian MHL pada penderita OMSK.

Metode : Penelitian analitik observasional dengan desain kasus kontrol di RSUP Dr Kariadi Semarang pada Bulan Juni – Agustus 2016. Subjek penelitian 68 penderita yang terdiri dari 2 kelompok. Kelompok kasus adalah penderita OMSK dengan MHL (n=34) dan kelompok kontrol merupakan penderita OMSK dengan hasil audiometri non MHL (n=34). Dilakukan anamnesis lama sakit, pemeriksaan fisik otoskopi, multislice computed tomography scan (MSCT Scan), kultur discharge telinga, serta skin prick test. Data dianalisis dengan Uji Chi-square.

Hasil : Lama sakit berpengaruh terhadap kejadian MHL (p<0,05). Adanya kolesteatoma tidak berpengaruh terhadap kejadian MHL (p>0,05). Letak perforasi tidak berpengaruh terhadap kejadian MHL (p<0,05). Jenis kuman berpengaruh terhadap kejadian MHL (p<0,05). Alergi tidak berpengaruh terhadap kejadian MHL (p>0,05). Lama sakit merupakan faktor resiko yang paling berpengaruh terhadap kejadian MHL pada penderita OMSK (p<0,05).

Kesimpulan : Lama sakit, luas perforasi membran timpani dan jenis kuman berpengaruh terhadap kejadian MHL pada penderita OMSK. Lama sakit merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian MHL. Letak perforasi membran timpani, adanya kolesteatoma dan adanya rinitis alergi tidak berpengaruh terhadap kejadian MHL pada penderita OMSK.

Kata kunci : OMSK, MHL, perforasi membran timpani, kolesteatoma, alergi.

PENGARUH BISING TERHADAP PENDENGARAN DAN KEJIWAAN PADA PEKERJA TERPAPAR BISING

PENGARUH BISING TERHADAP PENDENGARAN DAN KEJIWAAN PADA PEKERJA TERPAPAR BISING

Rohmatullah Subekti

 

ABSTRAK

Latar belakang : Kebisingan di tempat kerja seringkali merupakan problem bagi tenaga kerja. Dampak paparan kebisisngan dapat berupa auditori yaitu Noise Induce Hearing Loss (NIHL), dampak non auditori berupa gangguan kejiwaan berupa depresi, kecemasan dan stress. Tujuan : Mengetahui pengaruh bising terhadap pendengaran dan kejiwaan pada pekerja terpapar bising. Metode : Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan design belah lintang. Tingkat kebisingan diukur dengan menggunakan alat sound-level-meter, gangguan pendengaran dinilai dari hasil audiometri NIHL, gangguan kejiwaan dinilai dari jawaban kuesioner Depression Anxiety Stress Scale 42 (DASS 42) dari WHO. Analisis data dengan uji chi square. Hasil : Sebanyak 326 sampel bekerja lebih dari 10 tahun sebanyak 179 (54,9%) dan kurang dari 10 tahun sebanyak 147 (45,1%). NIHL 51 sampel (15,6%), gangguan jiwa 154 sampel (47,2%). Terdapat pengaruh lama paparan bising (p = 0,000) dan intemsitas kebisingan (p = 0,022) terhadap kejadian NIHL dan intensitas kebisingan berpengaruh terhadap derajat keparahan depresi (p = 0,007). Simpulan : Lama paparan dan intensitas bising berpengaruh terhadap pendengaran. Intensitas kebisingan berpengaruh terhadap derajat keparahan depresi. Lama paparan bising berpengaruh lebih kuat pada kejadian NIHL di banding dengan intensitas bising.

Kata kunci : kebisingan, NIHL, depresi, ansietas, stres.

 

PENGARUH CUCI HIDUNG NACL 0,9% TERHADAP PERBAIKAN WAKTU TRANSPORT MUKOSILIA, SKOR GEJALA DAN JUMLAH EOSINOFIL, HIDUNG PADA PEKERJA PABRIK KAYU

PENGARUH CUCI HIDUNG NACL 0,9% TERHADAP PERBAIKAN WAKTU TRANSPORT MUKOSILIA, SKOR GEJALA DAN JUMLAH EOSINOFIL, HIDUNG PADA PEKERJA PABRIK KAYU

Ayu Citra Resmi

 

ABSTRAK

Latar belakang: Lingkungan kerja dapat menyebabkan penyakit akibat kerja (PAK). Penyakit saluran pernapasan akibat kerja merupakan 21% penyebab kematian akibat PAK. Bekerja di lingkungan dengan debu kayu menyebabkan inhalasi partikel melalui saluran pernapasan termasuk hidung. Paparan debu kayu dapat menimbulkan keluhan di hidung, gangguan transport mukosilia hidung (TMSH) dan reaksi inflamasi di mukosa cavum nasi. Cuci hidung NaCl 0,9% dianggap dapat memperbaiki TMSH, mengurangi gejala dan mengurangi mediator inflamasi di mucosa cavum nasi sehingga PAK terutama pada pekerja pabrik kayu dapat dicegah.

Tujuan : Membuktikan pengaruh cuci hidung NaCl 0,9% terhadap perbaikan waktu TMSH, skor gejala dan jumlah eosinofil hidung pada pekerja pabrik kayu.

Metode : Penelitian intervensi, pretest and posttest control group design, randomized control trial di pabrik kayu SY pada bulan Januari – Maret 2016. Pekerja yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dihidung waktu TMSH, skor gejala hidung menggunakan SNOT 20, dan jumlah eosinofil hidung. Kelompok perlakuan diberi cuci hidung NaCl 0,9% 2x sehari dan selalu menggunakan masker. Kelompok kontrol memakai masker saja. Perlakuan diberikan selama s2 minggu, setelah itu dihitung kembali waktu TMSH, skor gejala SNOT 20 dan jumlah eosinofil hidung. Analisis uji komparatif anrtara kedua kelompok menggunakan uji t tidak berpasangan.

Hasil : Subjek penelitian 36 orang pekerja pabrik kayu. 18 perlakuan dan 18 kontrol. Waktu TMSH dan skor gejala hidung setelah perlakuan lebih baik dibandingkan kontrol (p< 0,05). Jumlah eosinofil hidung setelah perlakuan tidak lebih rendah dibanding kontrol (p = 0,324)

Simpulan : Cuci hidung NaCl 0,9% terbukti berpengaruh terhadap perbaikan waktu TMSH dan skor gejala hidung, tetapi tidak berpengaruh terhadap jumlah eosinofil hidung.

Kata kunci : Debu kayu, Mukosiliari transport, SNOT 20, eosinofil, cuci hidung, NaCl 0,9%.

KEGIATAN

Berita dan informasi kegiatan THT-KL FK UNDIP

HUBUNGI KAMI

THT-KL FK Undip


Jl. Dr. Soetomo No.18
(Komplek Zona Pendidikan RSUP Dr. Kariadi - Ruang KSM THT)
Semarang
 - Jawa Tengah


(024) 8451927


alumnithtklfkundip@gmail.com